Minggu, 02 Januari 2011

PENGKAJIAN FISIK PADA SISTEM KARDIOVASKULER

Tugas Kelompok

DISUSUN OLEH
NURAENA : 08 071 014 070
ISNA MAJID : 08 071 014 096
ISKANDAR KADER : 08 071 014 092


JURUSAN KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM MAKASSAR
MAKASSAR
2010
PENGKAJIAN FISIK PADA SISTEM KARDIOVASKULER

Keadaan Umum
Keadaan umum pada klien dengan gangguan system kardiovaskuler dapat dilakukandengan mengobser vasi keadaan fisik tiap bagian tubuh.kesadaran klien perlu dinilai secara umum yaitu compos mentis, apatis, somnolen, sopor, soporokomatous, atau koma.
Sianosis
Sianosis adalah perubahan warna kulit menjadi biru yang disebabkan oleh adanya doksihemoglobin dalam pembuluh darah superfisiel.
Pucat
Defisiensi hemoglobin (anemia) dapat menyebabkan kulit menjadipucat dan terlihat pada membrane mukosa skelera dan mulut jika mengalami anemia berat (hemoglobin kurang dari 70 g/I).
Kelelahan
Kelelahan (fatique) dapat terlihat jelas, yang disebabkan oleh curah jantung yang rendah akibat sekunder penyakit jantung, sehingga menyebabkan suplai oksigen kejaringan tidak adekuat.
Hidrasi
Untuk menilai hidrasi maka dapat dilakukan hal berikut:
• Inspeksi adanya mata cekung, membrane mukosa kering, dan keadaan umum yang memburuk akibat dehidrasi berat.
• Turgor kulit menurun(cubit kulitnya, kulit yang normal cepat kembali keasal bila dilepaskan) terjadi pada dehidras isedang dan berat.
• Ukur tekanan darah dan tentukan adanya penurunan tekanan darah
• Timbang berat badan klien dengan menimbang berat badan setiap hari merupakan cara terbaik untuk menentukan perubahan status hidrasi. Misalnya, penurunan berat badan sebesar 5% selama 24 jam menunjukkan bahwa lebih dari 5% cairan tubuh telah hilang.


Posisi klien
Posisi klien ideal pada pemeriksaan fisik system kardiovaskuler yaitu klieen diposisikan berbaring ditempat tidur dengan bantal secukupnya sehingga tubuh membentuk sudut 45
Tanda Vital
Pemeriksaan tanda vital secara umum terdiri atas nadi, frekuensi pernapasan, tekanan darah dan suhu tubuh.
Pemeriksaan Nadi
Pemeriksaan nadi pada system kardiovaskular yang komprehensip dapat membantu perawat dalam menegakkan diagnosis keperawatan klien.pengkajian ini meliputi:
Palpasi
Penilaian palpasi meliputi prekuensi, irama, ciri denyutan, isi nadi, dan keadaan pembuluh darah. Untuk pemeriksaan jantung awal atau bila irama nadi tidak teratur, maka frekuensi jantung harus dihitung dengan melakukan auskultasi denyut apikal selama satu menit penuh sambil meraba denyut nadi
Frekuensi Nadi
Frekuensi nadi normal bervariasi dari frekuensi minimal 50 pada orang dewasa yang sehat dan atletis sampai maksimal melebihi 100 setelah latihan atau saat kegirangan.
Tekanan nadi; mungkin sempit mungkin sempit menunjukkan penurunan volume sekuncup.
Nadi perifer berkurang; perubahan dalam kekuatan denyutan dapat terjadi; nadi sentral mungkin kuat mis, nadi jugularis, karotis, abdominal terlihat.
Pengukuran Tekanan Darah
Pengkajian tekanan darah dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis, karena itu perawat perlu lebih spesifik mengetahui pengukuran tekanan darah. Teknik penggukuran tekanan darah meliputi :


Cara Palpasi
• Hanya untuk mengukur tekanan sistolik
• Mansetspigmomanometer yang digunakan harus sesuai dengan usia (manset anak-anak lebih kecil dibandingkan dengan orang dewasa).
• Kenakanmanset pada lengan lalu pompa dengan udara secara perlahan sampai denyut nadi pergelangan tangan tak teraba lagi. Kemudian tekanan didalam manset diturunkan dengan membuka lubang pemompa secara perlahan.
• Amati tekanan pada skala spigmomanometer.
• Saat denyut nadi teraba kembali, baca tekanan pada skala spigmomanometer, tekanan ini adalah tekanan sistolik.
Cara Auskultasi
• Untuk mengukur tekanan sistolik dan diastolic.
• Manset spigmomanometer diikatkan pada lengan atas, stetoskop ditempatkan pada arteri brakialis pada permukaan ventral siku agak baawah manset spigmomanometer.
• Sambil mendengarkan denyut nadi, tekanan dalam spigmomanometer dinaikkan dengan memompa udara ke dalam manset sampai nadi tidak terdengar lagi, kemudian tekanan didalam spigmomanometer di turunkan secara perlahan.
• Pada saat denyut nadi mulai terdengar kembali, baca tekana yang tercantum pada skala spigmomanometer, tekana ini adalah tekana sistolik.
• Suara denyyutan nadi selanjutnya agak keras dan tetapterdengar sekeras itu sampai suatu saat denyutannya melemah atau menghilang sama sekali.
• Tekana darah diukur saat klien berbaring.
• Terkadang ditemukan masa bisu (auscultatory gap), yaitu suatu massa denyut nadi tidak terdengar saat tekanan spigmomanometer.
Pemeriksaan Suhu Tubuh
Temperature harus selalu diukur sebagai bagian dari pemeriksaan klinis awal pada klien.
Temperatur yang normal berkisar dari 36,6°C-37,2°C (98°F - 99°F). pada cuaca yang sangat panas, temperatur dapat naik sampai 0,5°C lebih tinggi. Pada kondisi normal,temperatur oral lebih rendah dari pada temperature rectal sebesar 0,2 – 0,5°C.
Temperature aksila dapat lebih rendah 0,5°C dari pada temperature oral. Temperature badan paling rendah terjadi saat bangun tidur pagi hari dan mencapai puncaknya antara pukul 6 dan 10 sore. Hal ini disebut variasi diurnal. Pola demam (pireksia) bermanfaat untuk menegakkan diagnosis.

Pengkajian Tangan
Pada klien jantung, hal penting lain yang harus diperhatikan adalah pemeriksaan ekstremitas atas, yang meliputi hal-hal berikut:
• Sianosis perifer: kulit tampak kebiruan, menunjukkan penurunan kecepatan aliran ddarah keperifer.
• Pucat dapat menandakan anemia atau peningkatan tahanan vaskular sistemik
• Waktu pengisian kapiler (CRT=Capillary Refill Time) merupakan dasar dalam memperkirakan kecepatan alira darah perifer.
• Temperature dan kelembapan tangan dikontrol oleh system saraf otonom.
• Edema meregangkan kulit dan membuatnya susah dilipat
• Penurunan turgor kulit terjadi pada dhidrasi dan penuaan.
B1 (Breathing)
Pengkajian yang didapat dengan adanya tanda kongestif vascular pulmonal adalah dispnea, ortopnea, dispnea nokturnal paroksimal, batuk, dan edema pulmonal akut. Carckles atau ronki basah halus secara umum terdengar pada dasar posterior paru. Hal ini dikenali sebagai bukti gagal ventrikel kiri. Sebelum carckles dianggap sebagai kegagalan pompa, klien harus diinstrruksikan untuk batuk dalam guna membuka alveoli basilaris yang mungkin dikompersi dari bawah diagfragma.
Dispnea
Dispnea, dikarakteristikan dengan pernapasan cepat, dangkal dan keadaan yang menunjukkan bahwa klien sulit mendapatkan udara yang cukup, yang menekan klien. Terkadang klien mengeluhadanya insomnia, gelisah, atau kelelahan, yang disebabkan oleh dispnea.
Ortopnea
Ortopnea, ketidak mampuan untuk berbaring datar datar karena dispnea, adalah keluhan umum lain dari gagal ventrikel kiri yang berhubungan dengan kongesti vascular pulmonal. Perawat harus menentukan apakah ortopnea benar-benar berhubungan dengan penyakit jantung atau apakah peninggian kepala saat tidur adalah kebiasaan klien belaka. Sebagai contoh, bila klien menyatakan bahwa ia terbiasa menggunakan tiga bantal saat tidur. Tetapi, perawat harusmenanyakan alasan klien tidur dengan menggunakan tiga bantal. Bila klien mengatakan bahwa ia melakukan ini karena menyukai tidur dengan ketinggian ini dan telah dilakukan sejak sebelum mempunyai gejala gangguan jantung, kondisi ini tidak tepat dianggap sebagai ortopnea.
Dispnea Nokturnal Paroksismal
Dispnea Nokturnal Paroksismal (DNP) adala keluhan yang dikenal baik oleh klien yaitu klien biasannya terbangun ditengah malam karena mengalami napas pendek yang hebat. Dispnea nocturnal paroksismal ddiperkirakan disebabkan oleh perpindahan cairan dari jaringan kedalam kompar pada temen intravaskuler sebagai akibat dari posisi telentang. Pada siang hari, saat klien melakukan aktivitas, tekanan hidrostatik vena meningkat, khususnya pada bagian bawah tubuhkarena adanya gravitasi, peningkatan volume cairan, dan peningkatan tonus simpatetik. Dengan peningkatan tekanan hidrostatik ini, sejumlah cairan keluar masuk kearea jaringan secara normal. Namun, dengan posisi telentang. Tekanan pada kapiler-kapiler dependen menurun dan cairan diserap kembali kedalam sirkulasi. Peningkatan volume cairan dalam sirkulasi akan memberikan jumlah tambahan darrah yang dialirkan kejantung untuk dipompa tiap menit (peningkatan beban awal) dan memberikan beban tambahan pada dasar vaskular pulmonal yyang telah mengalami kongesti.
Mengingat bahwa DNP terjadi bukan hanya pada malam hari tetapi dapat terjadi kapan saja, klien harus diberikan tirah baring selama perawatan akut di rumah sakit.
Batuk
Batuk iritatif adalah salah satu gejala dari kongesti vaskular pulmonal yang sering tidak menjadi perhatian tetapi dapat merupakan gejala dominan. Batuk ini dapat produktif tetapi biasanya kering dan batuk pendek. Gejala ini dihubungkan dengan kongesti mukosa bronkial dan berhubunngan denngan peningkatan produksi mucus.
Edema Pulmonal
Edema pulmonal akut adalah gambaran klinis paling bervariasi dihubungkan dengan kongesti vaskular pulmonal. Edema pulmonal akut ini terjadi bila tekanan kapiler pulmonal melebihi tekanan yang cenderung mempertahankan cairan didalam saluran vaskuler (kurang lebih 30 mm Hg). Pada tekanan ini, akan terjadi transduksi cairan kedalam alveoli, namun sebaliknnya tekanan ini akan menurunkan tersedianya area untuk transport normal oksigen dan karbon dioksida dari darah dalam kapiler pulmonal.
Edema pulmonal akut dicirikan oleh dispnea hebat, batuk, ortopnea, ansietas, sianosis, berkerinngat,kelainan bunyi pernapasan, dan sangat serimh nyeri dada dan sputum berwarna merah muda, berbusa yang keluar dari mulut. Ini memerlukan kedaruratan medis dan harus ditangani dengan cepat dan tepat.
B2 (Blood)
Inspeksi
Inspeksi adanya perut pascapembedahan jantung. Lihat adanya dampak penurunan curah jantung. Selain gejala-gajala yang diakibatkan dan kongesti vaskular pulmonal, kegagalan ventrikel kiri juga dihubungkan dengan gejala tidak spesifik yang berhubungan dengan penurunan curah jantung. Klien dapat mengeluh lemah, mudah lelah, apatis, letargi, kesulitan berkonsentrasi, difisit memori, dan penurunan toleransi latihan. Gejala ini mungkin timbul pada tingkat curah jantung rendah kronis dan merupakan keluhan utama klien. Sayangnya,gejala ini tidak spesifik dan sering dianggap depresi, neurosis, dan keluhan fungsional. Oleh karena itu, secara potensial hal ini merupakan indicator penting penyimpangan pungsi pompa yang sering tidak dikenali kepentingannya, dank lien juga diberi keyakinan dengan tidak tepat atau diberi tranquilizer (sediaan yang meningkatkan suasana hati-mood). Ingat, adannya gejala tidak spesifik dari curah jantung rendah memerlukan evaluasi cermat terhadap jantung serta pemeriksaan psikis yang akan member informasi untuk menentukan penatalaksanaan yang tepat.
Palpasi
Oleh karena peningkatan frekuensi jantung merupakan respons awal jantung terhadapp stress, sinus takikardia mungkin dicurigai dan sering ditemukan pada pemeriksaan klien denngan kegagalan pompa jantung. Irama lainyang berhubungan dengan kegagalan pompa meliputi: kontraksi atrium premature, takikardiaatrium paroksimal, dan denyut ventrikel premature.
Perkusi
Perkusi dilakukan dengan meletakkan jari tengah tangan kiri sebagai plesimeter (landasan) rapat-rapat pada dinding dada. Perkusi dapat dilakukan dari semua arah menuju letak jantung. Untuk menentukan batas sisi kanan dan kiri, perkusi ddilakukan dari arah samping ditengah dada. Batas atas jantung dikettahui dengan melakukan perkusi perkusi dari atas kebawah.
Perkusi dapat pula dilakukan dari arah sternum keluar dengan jari yang stasioner secara parallel pada ruang interkostal sampai suara redup tidak terdengar. Ukur jarakpada garis midsternal dan tentukan dalam sentimeter. Dengan adanya foto rontgen, perkusi area jantung jarang dilakukan karena gambaran jantung dapat dilihat pada hasil foto toraks anteroposterior.
Pada pemerikasaan ini menunjukkan batas jantung ada pergeseran yang menandakan adannya hipertropi jantung (kardiomegali).
Auskultasi
Tekanan darah biasanya menurun akibat penurunan volume sekuncup. Bunyi jantung tambahan akibat kelainan katup biasanya ditemukan apabila penyebab gagal jantung adalah kelainan katup.
Tanda fisik yang berkaitan dengan kegagalan ventrikel kiri dapat dikenali dengan mudah dibagian yang meliputi: bunyi jantung ketiga dan keempat ( S3, S4)serta crackles pada paru-paru.S4 atau gallop atrium, mengikuti kontraksi atrium dan terdenngar paling baik dengan bel stetoskop yang ditempelkan dengan tepat pada apeks jantung.
Posisi lateralkiri mungkin diperlukan untuk mendapatkan bunyi. Iini terdengar sebelum bunyi jantung pertama (S1) dan tidak selalu tanda pasti kegagalan kongestif, tetapi dapat menurunkan komplains (peningkatan kekakuan) miokard. Ini mungkin indikasi awal premonitory menuju kegagalan. Bunyi S4 adalah bunyi yang umum terdengar pada klien dengan infarkmiokardium akut dan mungkin tidak mempunyai prognosis bermakna, tettapi mungkin menunjukkan kegagalan yang baru terjadi.
S3 atau gallop ventrikel adalah tanda penting dari gagal ventrikel kiri dan pada orang dewasa hampir tidak pernah ada pada adanya penyakit jantung signifikan. Kebanyakan dokter akan setuju bahwa tindakan terhadap gagal kongestif diindikasikan dengan adannya tanda ini. S3 terdengar pada awal diastolik setelah bunyi jantung kedua (S2), dan berkaitan dengan periode pengisian ventrikel pasif yang cepat. Ini juga dapat didenngar paling baik dengan bel stetoskop yang diletakkan tepat diapeks,, dengan klien pada posisi lateralkiri dan pada akhir ekspirasi. Bunyi jantung tambahan akibat kelainan katup biasanya dipatkan apabila penyebab gagal jantung karena kelinan katup.

Penurunan Curah Jantung
Selain gejala-gejala yang diakibatkan gagal ventrikel kiri dan kongesti vaskular pulmonal, kegagalan ventrikel kiri,, juga dihubunggkan dengan gejala tidak spesifik yang berhubungan dengan penurunan curah jantung. Klien dapat mengeluh lemah, mudah lelah, apatis, letargi, kesulitan berkonsentrasi, difisit memori, atau penurunan toleransi latihan.
Bunyi Jantung
Auskultasi dada memungkinkan pengenalan bunyi jantung normal, bunyi jantung abnormal, bising, dan bunyi-bunyi ekstrakardia. Bunyi jantung normal timbul akibat getaran volume darah dan bilik-bilik jantung pada penutupan katup. Bunyi jantung pertama berkaitan dengan penutupan katup arterior ventrikularis (AV), sedangkan bunyi jantung kedua berkaitan dengan penutupan katup seminularis.
Bunyi jantung perlu dinilai kualitas dan frekuensinya. Bunyi jantung merupakan refleksi dari membuka dan menutupnya katup dan terdengar di titik spesifik dari dinding dada
Bunyi jantung I (S1) dihasilkan oleh penutupan katup atrioventrikuler (mitral dan trikuspidalis).
Bunyi jantung II (S2) disebabkan oleh penutupan katup semilunar (aorta dan pulmonal).
Bunyi jantung III (S3) merupakan pantulan vibrasi ventrikuler dihasilkan oleh pengisian ventrikel ketika diastole dan mengikuti S2.
Bunyi jantung IV (S4) disebabkan oleh tahanan untuk mengisi ventrikel pada diastole yang lambat karena meningkatnya tekanan diastole ventrikel atau lemahnya penggelembungan ventrikel.
Bunyi bising jantung disebabkan oleh pembukaan dan penutupan katup jantung yang tidak sempurna. Yang perlu diperhatikan pada setiap bising jantung adalah :
• Apakah bising sistolik atau diastolic atau kedua-duanya.
• Kenyaringan (keras-lemah) bising.
• Lokasi bising (yang maksimal).
• Penyebaran bising
Distrimia
Karena peningkatan frekuensi jantung adalah respons awal jantung terhadap stress, sinus takikardia mungkin dicurigai ddan sering ditemukan pada pemeriksaan klien dengan kegagalan pompa jantung. Irama lain yang berhubungan dengan kegagalan pompa meliputi kontraksi atriumprematur, takikarrdia atrium paroksismal, dan denyut ventrikel premature. Kapanpun abnormalitas irama terdeteksi, seseorang harus berupaya untuk menemukan mekanisme dasar patofisiologisnya, kemudian terapi dapat direncanakan dan diberikan dengan tepat.
Kulit Dingin
Kegagalan arus darah kedepan (fordward failure) pada ventrikel kiri menimbulkan tanda-tanda yang menunjukkan berkurangnya perfusi keorgan-organ. Karena darah dialihkan dari organ-organ non vital ke organ-organ vital seperti jantung dan otak untukmempertahankan perfusinya maka maniifestasi paling awal dari gagal kedepan yang lebih lanjut adalah berkurangnya perfusi organ-organ seperti kulit dan otot-otot rangka. Kulit tanpak pucat dan terasa dingin karena pembuluh darah perifer mengalami vasokontriksi dan kadar hemoglobin yang tereduksi meningkat sehingga akan terjadi sianosis.
B3 (Brain)
Kesadaran klien biasanya compos mentis. Sering ditemukan sianosis perifer apabila terjadi gangguan perfusi jaringan berat. Pengkajian objektif klien meliputi wajah meringis, menangis, merintih, meregang, dan menggeliat.
B4 (Bladder)
Perfusi ginjal yang menurun mengakibatkan anuria dengan keluaran kemihkurang dari 20 mV jam. Dengan semakin berkurangnya curah jantung , biasanya menurunkan pula keluaran kemih. Oleh karena adanya respons kompensatorik retensi natrium dan air, maka kadar natrium dalam kemih juga berkurang.
B5 Bowel)
Hepatomegali
Hepatomegali dan nyeri tekan pada kuadran kanan atas abdomen terjadi akibat pembesaran vena ddihepar.
Anoreksia
Anoreksia (hilangnya selera makan ) dan mual terjadi akibat pembesaran venna dan statis vena didalam rongga abdomen.

B6 (Bone)
Edema
Edema sering dipertimbangkan sebagai tanda gagal jantung yang dapat dipercaya dan tentu saja, ini sering ditemukan bila gaggal ventrikel kanan telah terjadi

Mudah Lelah
Klien dengan gagal jantung akan cepat merasa lelah, hal ini terjadi akibat curah jantung yang bekurang yang dapat menghambat pembuangan sisa hasil katabolisme.

















DAFTAR PUSTAKA

Corwin J,Elisabeth. (2009). Buku Saku patofisiologi. Ed 3. Jakarta: EGC.
Doenges dkk.(1999). Rencana Asuhan Keperawatan.Ed 3.Jakarta: EGC.
Mutaqin, Arif. (2009). B.A Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem Kardovaskuler dan Hematologi.Jakarta: Salemba Medika.
Mutaqin, Arif. (2009). Pengantar Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem Kardovaskuler. Jakarta: Salemba Medika.
Priharjo, Robert. (2006). Pengkajian Fisik Keperawatan. Ed 2. Jakarta : EGC.
Price A.S,Wilson L.M. (2005). Patofisiologi. Ed 6. Jakarta: EGC.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar